Inih acara tipi…
July 24th, 2008 by trusata22 Juni 2008
Kompas: Yang Berkualitas Itu yang Mendidik
Kompas Minggu, 22 Juni 2008 menurunkan tulisan BE Satrio, sbb. :
Menyajikan
informasi, menghibur, dan mendidik adalah tiga hal utama di antara
fungsi sosial media televisi. Di antara ketiganya, Survei Kompas
menunjukkan, fungsi mendidik menjadi parameter yang utama dalam menilai
suatu acara berkualitas atau tidak. Hasil Survei Kompas ini tidak
terlalu berbeda jauh dengan hasil Survei Rating Publik yang dilakukan
gabungan beberapa organisasi nonpemerintah beberapa waktu lalu.
Acara-acara
seperti Kick Andy (Metro TV), program berita seperti Liputan 6 (SCTV)
dan Metro Realitas (Metro TV) menduduki peringkat atas sebagai acara
yang dianggap bermutu oleh pemirsa televisi.
Adanya perbedaan
hasil pemeringkatan oleh Survei Rating Publik—diselenggarakan Yayasan
Sains, Estetika, dan Teknologi (SET), didukung Yayasan TIFA, Ikatan
Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), The Habibie Center, dan London
School of Public Relations—dan Survei Kompas ini disebabkan perbedaan
metodologi dan pemilihan responden.
Survei Rating Publik
menggunakan metode Peer Review Assessment dengan responden yang dipilih
secara sengaja (purposive). Sementara Survei Kompas melalui telepon
dengan nomor telepon responden yang dipilih secara acak sistematis
(systematic random). Meski demikian, perbedaan tersebut tidaklah
menghasilkan gambaran yang berbeda mengenai seperti apa acara yang
berkualitas itu. Jika bisa disimpulkan bersama, kedua survei ini
menunjukkan bahwa program berita dan acara bincang-bincang (talk show)
secara umum adalah acara yang dianggap berkualitas oleh pemirsa
televisi.
Lebih jauh, Survei Kompas mengungkap, mendidik,
realistis, dan informatif adalah tiga alasan utama responden menilai
sebuah acara itu berkualitas atau tidak. Bahkan, hal mendidik ini juga
termasuk jadi alasan bagi sebagian responden yang memilih acara berita
sebagai yang berkualitas. Artinya, acara-acara berita di televisi kita
pun tidak hanya dituntut informatif dan aktual, tetapi juga harus
mendidik.
Namun, meski acara berita dan talkshow dianggap acara
yang berkualitas, hanya program-program berita saja yang benar-benar
menjadi acara yang paling sering ditonton. Pada kenyataannya, responden
masih lebih sering menonton acara-acara sinetron dan ajang kontes idola
ketimbang menyimak talkshow.
Bisa jadi, karena memang sinetron
adalah program acara yang paling sering tayang dan tentu saja paling
banyak durasi waktunya. Bisa jadi juga, bagi sebagian orang sinetron
itu memang menarik ditonton, tidak peduli pada kualitas baik atau
buruknya. Meski sinetron masih menduduki peringkat tinggi sebagai acara
yang paling sering ditonton, namun Survei Kompas kali ini juga
mengindikasikan penurunan kualitas sinetron. Dua dari tiga (67,1
persen) responden menilai kualitas sinetron Indonesia saat ini buruk.
Sementara pada survei serupa enam bulan yang lalu, mereka yang
memberikan apresiasi positif maupun negatif terhadap sinetron Indonesia
ini relatif masih seimbang. Hal ini bisa berarti tidak ada perbaikan
kualitas sinetron Indonesia selama enam bulan ini, yang terjadi malah
penurunan. Setidaknya ini yang tergambar dari hasil survei. Sementara
itu, umumnya harapan responden pada perbaikan kualitas sinetron
Indonesia masih tetap sama, yaitu sinetron yang mendidik dan realistis.
Bagi
kebanyakan keluarga di negeri ini, tampaknya menonton televisi itu
adalah kegiatan kolektif daripada kegiatan yang bersifat individual.
Survei menunjukkan, tidak sampai satu dari sepuluh (8,4 persen)
responden yang tidak pernah menonton televisi bersama keluarga.
Selebihnya punya acara-acara favorit yang selalu ditonton bersama
anggota keluarga.
Dan ternyata, acara-acara favorit bersama keluarga
itu tidak jauh dari tayangan ajang kontes idola dan sinetron. Maka
tidak heran jika hal mendidik ini begitu sentral sebagai parameter
menilai acara-acara televisi kita. Sebab, tontonan yang mendidik itulah
yang sangat ingin dihadirkan di tengah ruang keluarga.
Catatan Saya :
1.
Pengelola TV tahu benar seperti apa acara yang bermutu. Namun mereka
menghindari keinginan pribadinya itu untuk menutupi biaya operasional.
Pemasukan mereka dapatkan dari iklan. Iklan berpatokan pada rating
ACNielsen. Agency belum percaya selain ACNielsen. Bagi pengelola TV,
ini bagaikan buah Simalakama. Membuat acara yang bermutu tapi gak ada
iklan. Membuat acara yang mendatangkan iklan, tapi di cap gak mutu.
Populasi penduduk yang mayoritas pemimpi, pendidikan rendah, miskin dan
‘norak’, jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan populasi yang
menginginkan kualitas acara televisi yang bermutu.
2. Apakah ada
cara lain untuk memberikan penghargaan terhadap acara bermutu? Ya,
tentu saja ada. Industri Penyiaran bisa mengusulkan kepada ACNielsen
membuat rating acara-acara sesuai formatnya. Mungkin acara type A untuk
kategori berita/info/talkshow "bermutu" dan type B untuk kategori acara
hiburan umum, tapi tidak perlu disebut "tidak bermutu".
3.
Hentikan perdebatan tentang acara TV yang bermutu atau tidak. Gunakan
waktu, pikiran, tenaga dan uang untuk menciptakan program berkualitas
dari sisi produksi, seperti cerita, gimmick, thema, teknologi, seni
peran, koreografi, lighting, dll. Biarkan selera masyarakat berkembang
dan dimanjakan oleh banyak station televisi di Indonesia. Golongan
menengah atas bisa berlangganan TV kabel untuk menonton CNN, HBO, ESPN,
MTV, FOX, BBC, dll. Biarkan penonton sinetron melupakan sejenak
kehidupan yang sedang sulit. Penghiburan diri itu mungkin bisa jauh
lebih baik dari pada stress menyaksikan berita kekerasan, pembunuhan,
bunuh diri, pemogokan, harga-harga naik atau perbincangan dengan bahasa
yang terlalu ‘tinggi’, dan lain sebagainya.